Terimakasih dari Liana :)

Untuk kalian yang latah dalam menyikapi sesuatu, timpal menimpal kritikan hanyalah buang-buang waktu, percayalah hidup ini tidak bisa dijalani dengan hanya begitu, selamanya kita tak akan sampai pada titik temu, karena kebenaran selalu bersifat “relative to”. –Liana-
Setelah membaca bermacam kritikan dari berbagai pihak, sambil nyengir nahan sesak napas rasanya jari saya mulai gatel jika hanya berdiam. Sengaja, yang saya baca memang hanya tulisan-tulisan yang berisi kritikan, karena membaca lontaran pujian tidak memberikan efek apapun selain menambah kesombongan. Untuk itu, gatelnya jari saya sebenarnya karena memang sudah tak tahan untuk menulis ucapan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada pihak yang telah meluangkan waktu untuk tidak terlihat mainstream dengan menyampaikan kritikan.
Namun kurang afdhol rasanya jika ucapan terimakasih saya tidak saya jelaskan ditujukan kepada siapa, takutnya nanti ucapan terimakasih saya salah sasaran. Heuheu baiklah saya akan pretheli satu per satu kepada siapa saja ucapan terimakasih ini saya tujukan;
Pertama, untuk teman-teman yang mengatakan bahwa DEMA hanya lembaga penyelenggara, EO, atau apalah itu kalian menyebutnya. Pencatatan konfigurasi MOB terbanyak dalam Rekor MURI seakan mengatakan bahwa pekerjaan DEMA hanya membuat MOB. Ohmygossshhh terimakasih sudah berkata demikian. Asal teman-teman tahu ya, pengurus DEMA jumlahnya ada 29 dan dari 29 orang itu yang mengurus MOB mulai dari konsep sampai ngudek kopi untuk panitia yang lembur hanya saya seorang, ya hanya satu. Jadi pahamilah teman-teman, bagi sahabat-sahabat DEMA, MOB bukan apa-apa, apalagi sampai dibilang hajat besar DEMA, jelas bukan.
Tiga belas konfigurasi MOB itu memang dihandle oleh 28 orang, tapi mereka semua adalah panitia delegasi dari setiap fakultas. Mereka dedek emesh unyu-unyu angkatan masuk 2016 beberapa 2015. Kalau ada yang pingin kenalan saya ada kontaknya dan tahu alamat kos mereka semua. Mereka yang berdarah-darah mulai dari masang petak-petak di lapangan sampai membuat kertas kode 3844 lembar dengan tiga belas formasi, tidak ada satupun dari mereka yang merupakan pengurus DEMA. Terus nek ada pertanyaan “pengurus DEMA yang lain ngapain?”
Pengurus DEMA bekerja sesuai tugasnya masing-masing, ada yang fokus komunikasi ke fakultas-fakultas, ada yang mengkoordinir UKM-UKK, ada yang audiensi meminta tim dari KPK-RI mengisi materi Pendidikan Anti korupsi, ada yang ke kemenag untuk juga meminta pembicara, ada yang fokus menggarap persiapan parade budaya, ada yang sibuk membuat TOR materi, menghandle Training of Fasilitator untuk pendamping kelas, merangkum buku yang berisi materi PBAK, mendadak jadi tukang desain yang membuat segala desain keperluan PBAK, dan bahkan ada juga yang namanya masuk SK tapi sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
Ndelalah saya yang jadi koordinator MOBnya, yasudah saya jalankan dengan sepenuh hati, saya bentuk kepanitiaan MOB tersendiri, hingga akhirnya kalian semua menganggap peran dan fungsi DEMA telah sedemikian tereduksi. Hehehe saya ucapkan terimakasih. Ini bisa jadi bahan evaluasi, “oooh ternyata orang-orang kebanyakan menganggapnya begini”, batinku.
Yang kedua, untuk yang protes bahwa MOB membutuhkan anggaran besar apalagi sampai dicatatkan ke Museum Rekor, pakai dana UKT lagi. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya telah mengkritisi masalah pendanaan. Saya benarkan pendapat teman-teman, kampus memang begitu kok, senenge mendanai yang begini-begini. Saya mengaku bahwa membujuk kampus untuk memenuhi kebutuhan MOB memang sangat mudah, padahal MOB bukan hal yang substansial ya kan. Ngapain nampilin bermacam-macam simbol seperti itu, itu tidak bisa memberi perubahan nyata. Jadi, terimakasih atas evaluasinya, dan saya sepakat tahun depan MOB tidak perlu diadakan lagi. Sungguh, selain melelahkan bagi orang yang sukanya cuma ngomong, MOB cuma bikin pusing. Nah mendingan, tahun depan maba langsung diajari hal-hal yang bisa membawa perubahan dan melatih mental, nyangkem misale, itu tidak butuh dana banyak, betul kan?.. Hehehe
Hanya saja, ada yang perlu saya luruskan. Dalam dana UKT ada rincian untuk berbagai kegiatan, salah satunya PBAK. Nah, anggaran MOB tentunya diambilkan dari anggaran PBAK, tahu anggaran PBAK berapa? 400 ribu per mahasiswa. ibarate’e, Dana sebesar itu digunakan untuk membuat 99 tampilan MOB dengan kaligrafi Asmaul Husna juga masih sisa-sisa. Dan pliis, jangan bikin saya ketawa dengan mengatakan dana itu bisa buat kegian ini-ini-ini. yang saya pahami, anggaran yang sudah dialokasikan untuk suatu kegiatan nda bisa dicairkan untuk kegiatan yang lain. Jadi semisal tidak ada MOB pun anggaran PBAK tetap segitu, dan justru ngga tau juntrungnya kemana.
Ketiga, terimakasih yg tak terhingga saya tujukan kepada teman yang berpendapat dengan akun sebuah lembaga bahwa ‘kampus lebih memilih mencetak rekor muri daripada memecahkan persoalan intelektual’. Bisa jadi kalau saya masih pegang akun itu saya akan menuliskan hal yang sama kok, bahkan lebih. Komentar-komentar yang ada pasti saya balas semua. biar mereka sadar tentang permasalahan apa yang sebenarnya dihadapi, juga biar nggak dikira abis lempar batu langsung lari sembunyi. hihihi
Keempat, yang memboomingkan berita nyinyir “nyewa kreator dari kampus lain”, terimakasih sudah mengira demikian. tapi kalau boleh menjelaskan, di SK kepanitiaan nda ada yang namanya kreator, yang ada hanya koordinator dan anggota. Memang sempat saya datangkan teman dari kampus lain untuk dimintai arahan teknis pengerjaan sampai dampingan di lapangan. Tapi percayalah, itu bukan nyewa. Beliau adalah teman, kenalan, mahasiswa dari kampus lain yang kebetulan tahun lalu ikut menggarap MOB di kampusnya, karena saya dan tim kurang pengalaman wajar kan kalau minta bantuan.
Sekali lagi, saya sangat mengapresiasi teman-teman yang telah mau memberikan kritik, saran, dan masukan. Hanya saja jangan nanggung kalau mau kritis, rangkaian PBAK ada 4 hari, silakan disimak dan dikritisi. Eman-eman pemikiran secemerlang itu kalau hanya menanggapi MOB yang bukan apa-apa dan harga MURI yang tidak seberapa.
Saya katakan tidak seberapa karena ada anggran yang butuh dana jauh lebih besar, pengadaan kaos PBAK misalnya, kaos ini tidak memberikan efek apa-apa tapi menghabiskan dana beratus juta. Parahnya, Itu sudah terlaksana bertahun-tahun dan belum ada yang mengkritisi sebelumnya. peluang besar jika teman-teman ada yang mau mengkajinya dengan mempertanyakan esensi, substansi, pengaruh dari ada atau tidaknya, dan lain sebagainya, dijamin langsung ngehits.
Terakhir, untuk sahabat saya yang juga ikut berkomentar nyinyir. Saya ucapkan terimakasih banyak, apa yang kalian katakan seolah kalian angkatan yang terpaut jauh dengan saya. Padahal sebagian besar dari kalian juga pemegang amanah sebagai Anggota Badan Legistatif atau SEMA. Lha kok bisa-bisanya ikutan latah mengkritik MOB yang jelas bukan apa-apa. Kalau saya jadi anggota SEMA seperti kalian, daripada ikut-ikutan mengkritisi MOB yang sudah terlanjur terjadi dan sudah banyak yang mengkritisi, mendingan atur strategi untuk kritik dan tembak birokrasi. Bukankah kalian juga pemegang peran penting disini, bukankah kalian juga penentu arah kampus hari ini. saran saya, jangan mengkerdilkan peran untuk hanya memberikan kritik yang ikut-ikutan. kecuali jika memang hanya latah dan takut kena kritik senior. Tapi tetap saya ucapkan terimakasih telah turut memberikan saran, mungkin memang begini cara kalian berperan, yang saat PBAK hanya duduk di stand pengaduan dan menunggu jatah makan siang  kalau ada maba yang komplain atau memberikan laporan.

Ucapan terimakasih ini tidak merupakan ucapan dari perwakilan pengurus DEMA lho ya, saya berbicara begini sebagai ‘Liana’ yang kemarin ndelalah jadi koordinator MOB, dan sebagai ‘Liana’ yang sedang menghadapi persekawanan tidak jelas modelnya. Dibilang kawan tapi membully dan menertawakan, dibilang musuh kok ya ketoke sering salaman. Hahaha sudahlah.. terimakasih sudah membaca.

Komentar

Posting Komentar